Hei.. pertemuan kita siang itu membuatku kepanasan, bukan karena matahari tapi karena kamu berdiri di depanku..
Aku masih ingat senyum itu.. senyum yang tak pernah kamu lepaskan sedikitpun sejak aku menemukanmu di sana, iya.. kamu yang berdiri di depanku.
Sapaanmu tak kalah ramah dengan senyum manis itu. Aku terlalu nyaman diperhatikan matamu. Aku.. menikmati setiap kata yang selalu terdengar lembut tiap kamu mengucapkannya.
Hei.. Aku menikmati semua yang terjadi hari itu, memandangimu, mendengarkanmu, menemanimu.
Sampai punggung mu berlalu pergi, kebahagiaan yang kamu ciptakan tetap melekat dihatiku.. sampai aku kira hatiku takan cukup untuk menampungnya.
Dan ketika kamu kembali dihari itu, hatiku benar2 meledak sama seperti kembang api yang kita nyalakan bersama malam itu.
Aku bahagia karena kamu berdiri di depanku.
Tidak apa-apa kan jika aku merindukannya diam-diam? Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun. Tidak ada yang percaya juga tidak apa-apa, aku tidak peduli. Aku hanya ingin merasakannya saja. Kau yang kurindukan, sudah sejauh apa kau melarikan diri dariku? Sudah sembuhkan luka yang pernah aku tinggalkan? Betapa egoisnya aku karena masih merindukanmu. Mungkin jika kau tahu, kau takan memaafkanku. Kau akan menertawakanku. Tidak apa-apa.. Aku tidak perlu rasa percayamu. Aku hanya yakin pada rinduku. Karena aku tidak hanya sekali merindukanmu. Aku selalu menahan rindu-rindu itu untuk diriku sendiri. Karena bagaimana bisa aku tidak merindukanmu? Orang yang pernah menghangatkan hatiku. Jika tidak ada yang bisa kau percayai dari diriku lagi. Cukup percaya aku merindukanmu sepenuh hatiku.
Komentar
Posting Komentar