Langsung ke konten utama

Waktu Itu Dan Sekarang

Waktu itu, kalau saja aku mengerti dan tidak pernah egois, mungkin aku tak akan melukainya.
Waktu itu, kalau saja aku tidak menahannya mungkin dia sudah menemukan bahagianyajauh di sana.
Waktu itu dan sekarang, aku yang bersalah memintanya untuk tetap sama, padahal aku sendiri yang telah merubah segalanya.
Apa yang sebenarnya aku inginkan? Kenapa rasa haus bahagiaku menyakitinya.
Kenapa aku tega membiarkannya melihatku berdiri membelakanginya. Kenapa tak ku biarkan saja dia pergi, kenapa aku memintanya menepati janji sedangkan aku mengingkarinya.

Segalanya sudah menjauh dan takan bisa ku hentikan.
Waktu sudah menunjukkan betapa egoisnya aku memintanya untuk tetap di sampingku.
Tidak! Aku tidak pernah melakukannya dengan sengaja. Aku tidak ingin melukainya meskipun aku ternyata luka itu sendiri.

Aku.. Maafkan aku.. Aku tidak akan membiarkan waktu kembali mengingatkannya tentangku.

Waktu itu dan sekarang.. Jelas aku membutuhkannya.
Tidak! Tidak untuk sesaat, tapi butuh.. Untuk segalanya..

Sekarang, aku akan menyeret diriku pergi bahkan bayanganku pun takan mampu melukainya lagi.

Aku pergi ya..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Apa-Apa

Tidak apa-apa kan jika aku merindukannya diam-diam? Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun. Tidak ada yang percaya juga tidak apa-apa,  aku tidak peduli. Aku hanya ingin merasakannya saja. Kau yang kurindukan,  sudah sejauh apa kau melarikan diri dariku? Sudah sembuhkan luka yang pernah aku tinggalkan? Betapa egoisnya aku karena masih merindukanmu. Mungkin jika kau tahu, kau takan memaafkanku. Kau akan menertawakanku. Tidak apa-apa.. Aku tidak perlu rasa percayamu. Aku hanya yakin pada rinduku. Karena aku tidak hanya sekali merindukanmu. Aku selalu menahan rindu-rindu itu untuk diriku sendiri. Karena bagaimana bisa aku tidak merindukanmu? Orang yang pernah menghangatkan hatiku. Jika tidak ada yang bisa kau percayai dari diriku lagi. Cukup percaya aku merindukanmu sepenuh hatiku.

Janjimu

Aku masih ingat semua janjimu Tentang bagaimana kuatnya rasamu untuk tetap menyayangiku Bagaimana bertahannya kamu untuk menjadi benteng pelindungku Meski kita tak lagi berbagi rasa itu.. Tapi janjimu, kamu akan melupakannya bukan? Dan memberikannya pada orang lain Aku tidak ingin kamu menggantikan aku dengan siapapun Aku ingin janjimu tetap milik ku Aku ingin kamu tetap untukku bagaimanapun keadaan kita.. Aku pernah melepaskanmu, tapi aku tidak pernah bisa melepaskanmu. Aku berpura-pura baik saat kamu mulai menjauh Aku tidak sekuat itu ! Aku ingin kamu tetap disini Satu langit bersamaku Jangan meninggalkanku Tetaplah menjadi janji itu

Maaf

Entah mengapa aku mulai tak suka dengan kata Maaf.. Kata yang menyadarkan aku bahwa kamu tak akan ada di sisi ku. Setiap kamu mengatakan kata maaf kamu tak akan datang, kamu tak akan menelepon kamu tak akan ini itu, kamu akan menghilang. Aku semakin tak menyukai kata Maaf, karena kamu terlalu sering mengucapkannya, dan semakin sering, kamu semakin sering membuatku sedih. Aku tahu, kamu lebih baik memilih kata maaf dari pada meninggalkanku tanpa kabar.. Aku tahu, aku tahu.. Tapi yang aku ingin tahu kamu hanya sudah berdiri di depanku, tanpa maaf.. Saat kamu tak bisa datang, aku mengerti kata Maaf mu.. Saat kamu tak bisa menelepon, aku masih mengerti kata Maaf mu.. Saat kamu tak bisa membalas pesan ku, aku masih coba mengerti kata Maaf mu.. Saat kamu menghilang tanpa kabar berminggu-minggu, aku masih berusaha coba mengerti kata Maaf mu.. Kenapa aku bisa sekuat itu? Jawabannya sederhana, karena aku mencintaimu.. Sampai entah mulai sejak kapan kata Maaf mu seperti sesuatu yang ...