Dia berdiri tak jauh dari tempatku, tak lama Ia mendekat, jantungku bergemuruh hebat, konsentrasiku buyar.. sejuta kata-kata yang ingin ku tanyakan padanya lenyap entah terbang kemana, sementara dia sudah semakin dekat.
Aku yang pertama kali tersenyum ketika Dia sudah di depanku, hanya tersenyum.. bibirku tak bisa melakukan lebih. sementara mataku tak bisa lepas memandanginya. Dan dia? mungkin sama denganku.. sama-sama kikuk..
Dia duduk di sebelahku, tapi tetap tak ada obrolan apapun.. Aku mencuri pandang padanya, saat dia melakukan hal yang sama dan mata kita bertemu, semua menjadi lebih lucu bagiku.. seperti dua anak kecil yang bodoh!
Aku yang pertama memegang tangannya, tangan yang kurindukan sejak bertahun-tahun, tangannya hangat dan memebuatku nyaman. Dia mungkin bingung mengapa aku seberani itu.. aku juga bingung yang aku tahu aku hanya ingin memegangnya!
Kita masih diam.. samapai obrolan basi basi itu keluar, seperti panas banget ya? di sini ramai? haha.. terlalu konyol menurutku, namun ku ikuti saja obrolan itu hingga semua menjadi mengalir dan kita lebih rileks untuk saling berbicara meskipun belum berani saling menatap..
Semua terlalu singkat, namun pegangan itu ku eratkan saat Ia akan kembali meninggalkanku sendirian.. Aku takut waktu menjauhkan dia terlalu lama lagi..
Dan waktu memang menang.. Butuh ribuan hari.. untuk menanti pertemuan itu kembali..
Aku yang pertama kali tersenyum ketika Dia sudah di depanku, hanya tersenyum.. bibirku tak bisa melakukan lebih. sementara mataku tak bisa lepas memandanginya. Dan dia? mungkin sama denganku.. sama-sama kikuk..
Dia duduk di sebelahku, tapi tetap tak ada obrolan apapun.. Aku mencuri pandang padanya, saat dia melakukan hal yang sama dan mata kita bertemu, semua menjadi lebih lucu bagiku.. seperti dua anak kecil yang bodoh!
Aku yang pertama memegang tangannya, tangan yang kurindukan sejak bertahun-tahun, tangannya hangat dan memebuatku nyaman. Dia mungkin bingung mengapa aku seberani itu.. aku juga bingung yang aku tahu aku hanya ingin memegangnya!
Kita masih diam.. samapai obrolan basi basi itu keluar, seperti panas banget ya? di sini ramai? haha.. terlalu konyol menurutku, namun ku ikuti saja obrolan itu hingga semua menjadi mengalir dan kita lebih rileks untuk saling berbicara meskipun belum berani saling menatap..
Semua terlalu singkat, namun pegangan itu ku eratkan saat Ia akan kembali meninggalkanku sendirian.. Aku takut waktu menjauhkan dia terlalu lama lagi..
Dan waktu memang menang.. Butuh ribuan hari.. untuk menanti pertemuan itu kembali..
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus